Elaborasi Komunikologi Al-Qur’an ;
Sub-Komunikasi Antarpribadi Perspektif al-Qur’an
Oleh. Mashud
Abstrak
Komunikasi
al-Qur’an sebagai salah satu kajian dengan berbagai variannya telah banyak
dilakukan oleh para ilmuan komunikasi yang memiliki background ilmu keislaman.
Namun demikian kajian komunikasi Antarpribadi perspektif Al-Qur’an belum banyak
dilakukan para ilmuan komunikasi. Atas dasat itulah tulisan ini menjadi urgen
dan memiliki ciri khas tersendiri dibanding karya lainnya. Karya ini mencoba
melakukan eksplorasi teori dan konsep komunikasi Antarpribadi menurut ilmuan
barat, konsep komunikasi Antarpribadi menurut ilmuan muslim atau ilmu
al-Qur’an, dan berikutnya akan dikaji korelasi atau hubungan keduanya.
Kajian komunikasi Antarpribadi perspektif al-Qur’an ini sebenarnya merupakan bagian dari kajian komunikasi lainnya dengan sudut pandang al-Qur’an sebagai critical thinkingnya. Dalam kajian komunikasi dengan berbagai variannya dalam perspektif al-Qur’an dikenal istilah komunikologi al-Qur’an yaitu sebuah upaya mengkaji berbagai bidang keilmuan komunikasi perspektif al-Qur’an. Hasil riset keilmuan komunikasi Antarpribadi perspektif al-Qur’an ini menghasilkan temuan perbedaan dan persamaan/keterkaitan menurut konsep al-Qur’an dan menurut para ahli barat.
Key Word : Antarpribadi, Komunikologi, Al-Qur’an
Pendahuluan
Sebelum membahas lebih jauh konsep komunikasi Antarpribadi
perspektif Al-Qur’an, terlebih dahulu akan diuraikan konsep ilmu dalam
al-Qur’an. Sebagaimana diketahui bahwa al-Qur’an merupakan firman Allah yang
diwahyukan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaekat Jibril untuk umat
manusia.
Bila melihat konsep ilmu secara konvensional, ia
merupakan hasil akal, indra dan intuisi manusia yang diperoleh melalui hasil
proses yang dibangun atas dasar metode ilmiah dengan segala pirantinya. Namun
bila melihat konsep ilmu dalam al-Qur’an maka ia merupakan hasil derivasi dari
akal manusia yang dibangun atas pemahaman tentang ayat-ayat qawliyah
(al-Qur’an) yang merupakan firman Allah, pemahaman tentang ayat-ayat kauniyah
merupakan ciptaan Allah, dan pemahaman sunnah/hadist yang merupakan penjelas
dari al-Quran.
Setelah memiliki pemahaman berdasarkan kerangka
berfikir di atas, maka dapat dipahami bahwa Ilmu Allah atau ilmu yang muncul
dari cara pandang tersebut akan melahirkan ilmuan yang memiliki wordview
bahwa ilmu Allah untuk manusia akan dibangun atas 4 (empat) pilar yaitu,
Syariat Islam, Science atau Sains (ilmu pengetahuan), Teknologi, dan
seni. Dengan memadukan ke empat pilar
tersebut akan melahirkan ilmu pengetahuan terpadu, tidak dikotomi dan tidak
sekuler.
Uraian di atas bila dikaitkan dengan kajian
konsep ilmu komunikasi dalam al-Qur’an, maka posisi ilmu komunikasi dan ilmu
pengetahuan lainya merupakan salah satu pilar untuk membangun ilmu pengetahuan
terpadu yang tidak dikotomis. Dengan kata lain ketika membahas tentang konsep
ilmu komunikasi dalam al-Qur’an, mengandung pengertian bagaimana al-Qur’an
menjelaskan konsep-konsep komunikasi yang islami berdasarkan kandungan yang ada
di dalamnya.
Mendalami bagaimana Al-Qur’an menjelaskan
konsep-konsep komunikasi yang islami tersebut, perlu dipahami bahwa eksistensi
al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia merupakan pesan (massage)
yang Allah sampaikan kepada manusia lewat Malaekat Jibril kepada Nabi Muhammad
dan umat manusia. Bila dilihat dari sudut pandang komunikasi seperti yang
dijelaskan Harold Lasswel[1] dan ilmuan komunikasi lainnya. Harold
Lasswell menyatakan bahwa cara terbaik untuk menerangkan kegiatan komunikasi
adalah dengan menjawab pertanyaan; Who, Says What, In Which Channel, To
Whom, With What Effect[2],
maka proses turunnya wahyu (Qur’an) tersebut merupakan proses komunikasi karena
di dalamnya mengandung unsur-unsur komunikasi yaitu ; komunikator, pesan,
media, komunikan, dan efek/infact.
Dalam hal ini komunikatornya adalah Allah[3],
pesannya berupa wahyu al-Qur’an, medianya Malaekat Jibril lewat berbagai bentuk
baik langsung bertemu nabi Muhammad, lewat suara, cahaya dan bentuk lainnya,
komunikannya adalah Nabi Muhammad dan manusia secara umum, dan efeknya adalah
perubahan pemahaman dan sikap Nabi Muhammad dan manusia pada umumnya.
Melihat ruang lingkup isi al-Qur’an yang luas
tersebut dalam tulisan ini akan dibatasi pada menjelaskan komunikasi Antarpribadi
perspektif al-Qur’an. Kajian ini merupakan hasil eksplorasi dan kajian mendalam
pada kajian ilmuan barat tentang komunikasi Antarpribadi, lalu akan dilihat
beberapa konsep penjelasan tentang komunikasi Antarpribadi menurut kajian
al-Qur’an. Ketiga akan dibahas titik temu atau keterkaitan antara kajian ilmuan
barat dan pandangan Islam tentang komunikasi Antarpribadi.
Komunikologi Al-Qur’an[4]
Komunikologi
diperkenalkan pertama kali oleh Edward Safir tahun 1931 dan Joseph De Vito
tahun 1978, kemudian oleh Richard L Lanigan tahun 1992. Sebuah definisi
mengenai komunikologi mengatakan bahwa Communicology is the science of human
communication. One of the Human Science disciplines, it uses the logic based
research methods of semiotics and phenomenology to explicate human
consciousness and behavioral embodiment as discourse within global culture.
(Communicology adalah ilmu komunikasi manusia. Salah satu disiplin Ilmu
Manusia, menggunakan metode logika penelitian berdasarkan semiotika dan
fenomenologi untuk menjelaskan kesadaran manusia dan perwujudan perilaku
sebagai wacana dalam budaya global).
Engkus
Kuswarno menyatakan bahwa komunikologi lebih luas lagi yaitu, studi tentang
ilmu komunikasi (the study of the science of communication). Karena itu
dikatakan bahwa komunikologi masuk dalam ranah epistemologi dari ilmu
komunikasi. Dari uraian tersebut akan dijelaskan pengertian komunikologi
sebagai berikut.
Kata komunikologi[5]
berasal dari kata communico dan logos, yang mengandung arti ilmu
komunikasi. Adapun kata al-Qur’an berarti bacaan dan merupakan wahyu Allah
kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua kata tersebut digabung menjadi kata majemuk
menjadi Komunikologi Al-Qur’an, yang bila didefinisikan mengandung makna suatu
kajian tentang ilmu komunikasi dalam al-Qur’an.
Komunikologi Al-Qur’an juga bisa disebut Comunico-Qur’an,
karena kata komunikologi dan Communico memiliki substansi makna sama.
Istilah comunico atau komunikologi, sengaja peneliti populerkan untuk
mempermudah para ilmuan atau pemerhati kajian komunikasi dalam al-Qur’an,
dimana dalam istilah komunikologi atau comunico-Qur’an ini nanti
tentunya terdapat banyak kajian yang berhubungan dengan komunikasi dalam
al-Qur’an dari berbagai perspektif. Salah satu perspektifnya adalah seperti yang penulis lakukan saat ini
yaitu kajian komunikasi Antarpribadi dalam al-Qur’an.
Komunikologi Al-Qur’an merupakan sebuah
tawaran atau benih paradigma baru pada ranah kajian komunikasi dalam al-Qur’an.
Dengan kata lain setiap studi yang mengkaji atau berhubungan dengan komunikasi
dalam al-Qur’an, maka kajian tersebut bisa dikatakan sebagai bagian dari kajian
komunikologi Al-Qur’an. Demikian juga kajian dalam penelitian ini walaupun
hanya mengkaji aspek komunikasi Antarpribadi, tapi bisa juga dikatakan sebagai
salah satu kajian komunikologi Al-Qur’an.
Untuk menggambarkan kajian komunikologi
Al-Qur’an sebagai suatu pintu masuk semua kajian komunikasi perspektif
al-Qur’an dapat diilustrasikan sebagaimana gambar berikut :
Komunikasi Antarpribadi
Kita dapat memahami makna atau pengertian dari
komunikasi Antarpribadi dengan mudah jika sebelumnya kita sudah memahami makna
atau pengertian dari komunikasi intrapersonal. Seperti menganonimkan saja,
komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran
yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Jadi dapat diartikan bahwa
komunikasi Antarpribadi adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal
lebih dari satu orang. R Wayne Pace dalam kutipan Jalaludin Rakhmat, Psikologi
Komunikasi, mengatakan bahwa komunikasi Antarpribadi adalah Proses
komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka[6].
Komunikasi Antarpribadi menuntut berkomunikasi
dengan orang lain. Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi komunikasi diadik
dan komunikasi triadik. Komunikasi Antarpribadi juga berlaku secara kontekstual
bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Cara dan
bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini.
Jenis-Jenis Komunikasi Antarpribadi
Secara teoritis komunikasi Antarpribadi dalam
dibedakan menjadi dua berdasarkan pada sifatnya ; diadik dan triadik[7].
Komunikasi diadik ; komunikasi diadik disebut
juga (two way communication) adalah komunikasi Antarpribadi dua arah
antara satu orang dengan satu atau dua orang lainnya yang saling berhadapan
langsung (face to face)[8].
Komunikasi diadik yaitu: komunikasi yang terjadi
antara dua orang, di dalamnya terdapat pertukaran fungsi, ide-ide dan mempunyai
tujuan (antara a - b). Komunikasi diadik juga bisa mencakup
segala jenis hubungan Antarpribadi asalkan dilakukan oleh dua orang yang
berkomuniikasi, dalam komunikasi diadik, sifat hubungan antara dua orang yang
saling berinteraksi dapat dikelompokkan dalam dua katagori, yakni : komunikasi
yang bersifat primer dan sekunder.
Komunikasi diadik dapat terjadi secara primer dan
sekunder. Apabila pihak pihak yang mengadakan komunikasi dapat langsung bertemu
dan berhadapan muka, maka hal itu bersifat primer sedangkan apabila dalam
komunikasi itu membutuhkan perantara maka dikatakan kontak tersebut bersifat
sekunder. Tipe komunikasi diadik primer penting bagi pengembangan hubungan
informal dalam organisasi, karena masing masing pihak dapat membina kualitas
hubungan dengan ikatan emosional diantara keduanya.
Komunikasi diadik akan nampak dalam komunikasi
triadik atau komunikasi kelompok, baik kelompok dalam bentuk keluarga atau
kelas dan lain lain. Hal ini disebabkan dalam suatu kelompok terdapat
kecenderungan terjadinya pemilihan intraksi seseorang yang mengacu pada apa
yang disebut dengan primasi diadik. Primasi diadik ialah setiap dua orang dari
sekian banyak dalam kelompok itu yang terlihat dalam komuikasi berdasarkan
kepentingannya masing masing.
Ciri-ciri komunikasi diadik termasuk adalah
sebagai berikut ini : (a). Komunikasi dilakukan antara dua orang atau tiga
orang. (b). Komunikasi dilakukan langsung (face to face) atau kadang
menggukan media telepon. (c). Komunikator dapat berubah statusnya menjadi
komunikan, begitu juga sebaliknya komunikan dapat berubah menjadi komunikator,
dan seterusnya berputar berganti-ganti selama proses Komunikasi Antarpribadi
berlangsung. Tetapi komunikator utama adalah si pembawa pesan atau yang
pertama-tama menyampaikan pesan (message) sebab dialah yang memulai
komunikasi dan mempunyai tujuan. (d). Efek komunikasi dapat terlihat langsung,
baik secara verbal (dengan ucapan mengiyakan/menjawab) maupun secara non-verbal
(dengan bahasa tubuh/kinesik dan isyarat)
Komunikasi triadik ; komunikasi triadik adalah
komunikasi antarpribadi yang pelakunya terdiri dari tiga orang, yakni seorang
komunikator dan dua orang komunikan. Jika misalnya A yang menjadi komunikator
maka ia pertama tama menyampaikan kepada komunikan B, kemudian kalau dijawab
atau ditanggapi, beralih kepada komuniakn C, juga secara berdialogis.[9]
Jadi Komunikasi triadik itu adalah komunikasi
yang terjadi di antara tiga orang, di dalamnya bisa terdapat komunikasi diadik,
terjadi pertukaran fungsi, mempunyai tujuan tertentu (a b
c -------- a -
c, a -
b, b - c).
Komunikasi
triadik bisa juga berarti, penggabungan diadik yaitu komunikasi yang terjadi di
antara dua kelompok, misal: ayah, anak laki-laki, ibu- ibu, anak perempuan.
Atau juga bisa dikatakan komunikasi Small
Group yaitu interaksi tatap muka dari tiga individu atau lebih dengan
tujuan yang sudah diketahui sebelumnya seperti berbagi informasi, pemeliharaan
diri, memecahkan masalah, di sini anggotanya dapat mengingat karakteristik
pribadi anggota kelompok lain dengan
tepat.
Bisa juga dikatakan Komunikasi triadik, (multy
level communication) adalah komunikasi yang dilangsungkan secara
bertingkat, yaitu melakukan komunikasi dengan menggunakan berbagai tatanan
komunikasi. Misalnya Program Keluarga Berencana oleh pemerintah dimasyarakatkan
melalui penjelasan di Koran-koran, majalah, televisi/termasuk direklamekan
(tentunya dengan menggunakan komunikasi massa). Juga peogram KB dimasyarakatkan
dengan mengadakan seminar-seminar, penyuluhan-penyuluhan di balai
pertemuan/balai desa (tentunya termasuk komunikasi kelompok). Tetapi juga
program KB dimasyarakatkan dengan mengadakan komunikasi langsung mengadakan
anjang sana oleh PLKB ke rumah-rumah penduduk (door to door). Tentunya
dengan menggunakan komunikasi Antarpribadi.
Apabila kita bandingkan antara komunikasi diadik
dan triadik, maka komunikasi diadik lebih efektif, karena komunikator
memusatkan perhatiannya kepada sorang komunikan, sehinggga ia dapat menguasai frame
of refrence komunikan sepenuhnya, juga umpan balik yang berlangsung, kedua
factor yang sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya proses komunikasi.
Factor Homophily- Heterophily-Empathy
Berbicara efektifitas komunikasi antarpribadi
atau komuikasi interpersonal, Mc, Crosky, Larson, dan Knap dalam
bukunya An introduction to Antarpribadicommunication sebagaimana dikutip
oleh Onong Uchana Effendy mengatakan bahwa komunikasi yang efektif dapat
dicapai dengan mengusahakan ketepatanan yang paling tinggi derajatnya antara
komunikator dan komunikan dalam setiap situasi.[10]
Untuk kesamaan dan ketidaksamaan dalam derajat
pasangan komunkator dan komunikan dalam proses komunikasi. Everett M. Rogers mengetengahkan istilah homophily dan heterophily
yang dapat memperjelas hubungan komunikator dan komunikan dalam proses
komunikasi antar pribadi.[11]
Homophily berasal dari kata Yunani homoios yang
berarti sama. Jadi secara harfiyah, homophily berarti berkomunikasi dengan
orang yang sama.[12]
Namun sama disini menurut kami adalah sebuah istilah yang menggambarkan derajat
pasangan perorangan yang berinteraksi yang memiliki kesamaan dalam sifatnya (attribute),
seperti kepercayaan, nilai, pendidikan, stasus sosial dan sebagainya.
Heterophily merupakan kebalikan dari homophily
didefinisikan sebagai ketidaksamaan derajat komunikasi antara orang orang yang
berinteraksi dalam sifat sifat tertentu.[13]
Yang dimaksud heterophily disini adalah dalam situasi bebas memilih, dimana
komunikator dapat berinteraksi dengan dari sejumlah komunikan yang satu sama
lain saling berbeda, disitu terdapat kecenderungan yang kuat untuk memilih
komunikan yang lebih menyamai dia.
Orang orang yang sama lebih mungkin termasuk
kedalam kelompok yang sama, berdiam lebih berdekatan satu sama lain, dan
tertarik oleh kepentingan yang sama. Kesamaan secara sosial ini menjurus ke
homophily. Selanjutnya komunikasi yang lebih efektif terjadi apabila
komuniikator dan komunikan berada dalam keadaan homophily. Jika antara
komunikator dan komunikan terdapat persamaan seperti dalam hal bahasa dan sikap
maka komunikas akan lebih efektif. Kebanyakan orang lebih menyenangi dengan
orang yang benar benar sama dalam status sosial, pendididkan, kepercayaan dan
sebagainya.
Orang yang mngingkari homophily dan berusaha
berkomunikasi dengan orang yang berbeda dengannya sering dikecewakan dengan
kenyataan bahwa komuikasi yang dilakukannya tidak efektif. Umpamanya, Change
agent pada penduduk petani negara negara berkembang, sering menjumpai
masalah masalah disebabkan komunikasi penduduk jauh berbeda dengannya.
Perbedaan alam kemampuan teknik, status sosial, sikap dan kepercayaan,
kesemuanya itu menyebabkan adanya heterophily dalam bahasa dan pengertian, yang
selanjutnya mengakibatkan pesan yang disampaikan kepada mereka rentan
diabaikan.
Heterophily seperti itu seringkali menjurus
kepada komunikasi yang tidak efektif antara change agent dengan penduduk, dan
juga menyebabkan gagalnya kampanye inovasi. Salah satu akibat dari heterophily
yang tinggi derajatnya dalam penyebaran ialah, bahwa change agent cenderung
berinteraksi paling efektif dengan penduduk yang secara relatit menyamai change
agent dalam daya pembaharuan status sosial dan kepercayaan. Tetapi penduduk
yang bersifat homophily, hanya sedikit saja usaha yang diperlukan jika
dibangkinkan dengan pendudk yang heterophily dengan mereka.
Dalam suatu system, homophily juga bisa menjadi
rintangan bagi lajunya pembaruan yang cepat. Ide ide baru biasanya masuk
melalui anggota anggota masyarakat yang statusnya lebih tinggi dan lebih
inovatif. Jika terdapat homophily yang bertararaf tinggi, orang orang elit ini
terutama dan berinteraksi sesamanya, maka jelas akan sedikit saja penemuan baru
yang akan sampai pada masyarakat yang non elit.
Kebanyakan yang bersifat heterophily adalah
komunikasi yang tidak efektif. Namun bukan tidak ada cara untuk mengatasinya
agar komunikasi tersebut bisa sukses (efektif). Hal tersebut bisa diatasi salah
satunya dengan empathy.
Rogers dan Bwonik mendifinisikan empathy sebagai
kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada peran orang lain.
Apabila komuikator atau komunikan atau bahkan kedua duanya mempunyai kemampuan
melakukan empathy satu sama lain, kemungkinan besar akan terdapat komunikasi
yang efektif[14].
Jika mungkin diketahui bagaimana perasaan orang
lain dalam suatu situasi dan bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain itu,
maka mungkin sekali dapat menyampaikan pesan yang tepat kepada komunikan.
Jika seorang komunikator mempunyai
empathy yang mendalam dengan komunikan yang heterophilous, maka komunikator dan
komunikan benar benar dalam situasi yang homophilous dalam pengertian
sosio-psikologis.dengan demikian, penjelasan kami yang diawal mengenai
heterophily dan komunikai tidak efektif menghendaki modifikasi sebagai berikut:
komunikasi heterophilous kurang efektif dibandingkan dengan komunikasi
homophilous, kecuali kalau komunikator mempunyai derajat emphaty yang tinggi
terhadap komunikan.
Fungsi Komunikasi Antarpribadi Efektif
Komunikasi Antarpribadi dianggap efektif, jika orang lain memahami pesan
komunikator dengan benar, dan memberikan respon sesuai yang diinginkan. Beberapa
fungsi komunikasi efektif yaitu pertama, membentuk dan menjaga hubungan baik
antarpribadi, kedua menyampaikan pengetahuan atau informasi. Ketiga, mengubah
sikap dan perilaku, keempat pemecahan masalah hubungan antarmanusia, kelima
citra diri menjadi lebih baik, dan ke enam
jalan menuju sukses.
Fungsi
komunikasi Antarpribadi yang efektif sebagai bagian dari kajian komunikasi
efektif dalam kajian ini dapat digambarkan sebagai berikut, seperti
divisualisasikan dalam (gambar : 2.1) berikut di bawah ini :
Gambar : 2.1 Komunikasi Antarpribadi Efektif
Penunjang
Komunikasi efektif dalam komunikasi Antarpribadi
Devito seperti dikutip Suranto[15],
mengemukakan lima sikap positif yang perlu dipertimbangkan ketika seseorang
merencanakan komunikasi Antarpribadi. Lima sikap positif tersebut meliputi :
Petama.
keterbukaan (Oppennes)
Keterbukaan adalah sikap dapat menerima masukan dari orang lain, serta
berkenan menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Hal ini tidaklah
berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya,
tetapi rela membuka diri ketika orang lain menginginkan informasi yang
diketahuinya. Sikap keterbukaan ditandai adanya kejujuran dalam merespon segala
stimuli komunikasi. Tidak berkata bohong dan tidak menyembunyikan informasi
yang sebenarnya. Dalam proses komunikasi Antarpribadi, keterbukaan menjadi
salah satu sikap yang positif. Hal ini disebabkan, dengan keterbukaan maka
komunikasi Antarpribadi akan berlangsung secara adil, transparan, dua arah dan
dapat diterima oleh semua pihak yang berkomunikasi.
Kedua, emphaty
(merasa menjadi orang lain)
Emphaty adalah kemampuan seseorang untuk merasakan kalau
seandainya menjadi orang lain, dapat memahami sesuatu yang sedang dialami orang
lain, dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan dapat memahami sesuatu
persoalan dari sudut pandang orang lain, melalui kacamata orang lain.
Dengan kata lain emphaty dapat menjadi filter agar kita tidak
mudah menyalahkan orang lain. Namun kita dibiasakan untuk dapat memahami esensi
setiap keadaan tidak semata-mata berdasarkan cara pandang kita sendiri,
melainkan juga menggunakan sudut pandang orang lain. Hakekat emphaty
adalah pertama, usaha masing-masing pihak untuk merasakan apa yang dirasakan
orang lain, kedua, dapat memahami pendapat, sikap, dan perilaku orang lain.
Ketiga, sikap
mendukung
Hubungan Antarpribadi yang efektif adalah hubungan dimana terdapat
sikap mendukung (supportiveness). Artinya masing-masing yang
berkomunikasi memiliki komitmen untuk mendukung terselnggaranya interaksi
secara terbuka. Oleh karena itu respon yang relevan adalah respon yang bersifat
spontan dan lugas, bukan respon yang bertahan dan berkelit. Pemaparan gagasan
bersifat deskriptif naratif, bukan bersifat evaluatif. Sedangkan pola
pengambilan keputusan bersifat akomodatif, bukan intervensi yang disebabkan
rasa percaya diri yang berlebihan.
Keempat,
sikap positif (positiveness)
Sikap positif ditunjukkan dalam bentuk sikap dan perilaku. Dalam bentuk
sikap maksudnya adalah bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi Antarpribadi
harus memiliki perasaan dan pikiran positif, bukan prasangka dan curiga. Dalam
bentuk perilaku, artinya bahwa tindakan yang dipilih adalah yang relevan dengan
tujuan komunikasi Antarpribadi, yaitu secara nyata melakukan aktivitas untuk
terjalinnya kerjasama. Sikap positif dapat ditunjukkan dengan berbagai perilaku
dan sikap, antara lain : menghargai orang lain, berfikiran positif terhadap
orang lain, tidak menaruh curiga secara berlebihan, meyakini pentingnya orang
lain, memberikan pujian dan penghargaan dan komitmen menjalin kerjasama.
Kelima, kesetaraan (equality)
Kesetaraan adalah pengakuan bahwa kedua belah pohak memiliki kepentingan,
kedua belah pihak sama-sama bernilai dan berharga serta saling membutuhkan.
Memang secara alamiah ketika dua orang berkomunikasi secara Antarpribadi, tidak
pernah tercapai suatu situasi yang menunjukkan suatu kesetaraan atau kesamaan
secara utuh diantara keduanya. Pastilah yang satu lebih kaya, lebih pintar,
lebih muda, lebih pengalaman, dan sebagainya. Namun kesetaraan yang dimaksud di
sini adalah berupa pengakuan atau kesadaran, serta kerelaan untuk menempatkan
diri setara (tidak ada yang superior atau inferior) dengan
partner komunikasi. Dengan demikian dapat dikemukakan indikator kesetaraan,
meliputi : menempatkan diri setara dengan orang lain, menyadari akan adanya
kepentingan yang berbeda, mengakui pentingnya kehadiran orang lain, tidak
memaksakan kehendak, komunikasi dua arah, saling memerlukan, dan suasana
komunikasi : akrab dan nyaman[16].
Faktor Penghambat
Komunikasi Antarpribadi
Meskipun seseorang sudah berusaha untuk berkomunikasi dengan sebaik-baiknya,
namun komunikasi dapat menjadi gagal karena berbagai alasan. Usaha untuk
berkomunikasi secara memadai kadang-kadang diganggu oleh hambatan tertentu.
Faktor-faktor yang menghambat efektifitas komunikasi Antarpribadi dapat
disebutkan di bawah ini:
Pertama, kredibilitas komunikator rendah. Komunikator yang tidak
berwibawa di hadapan komunikan, menyebabkan berkurangnya perhatian komunikan
terhadap komunikator. Kedua, kurang memahmi latar belakang sosial dan budaya.
Nilai-nilai sosial budaya yang berlaku di suatu komunitas atau masyarakat harus
diperhatikan, sehingga komunikator dapat menyampaikan pesan dengan baik, tidak
bertentangan dengan nilai-nilai sosial budaya yang berlaku.
Ketiga, kurang memahami karakteristik komunikan. Karakteristik komunikan
meliputi tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, dan sebagainya perlu dipahami
oleh komunikator. Apabila komunikator kurang memahami, cara komunikasi yang
dipilih mungkin tidak sesuai dengan karakteristik komunikan dan hal ini dapat
menghambat komunikasi karena dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Keempat, prasangka buruk. Prasangka negatif antara pihak-pihak yang
terlibat komunikasi harus dihindari, karena dapat mendorong ke arah sikap
apatis dan penolakan.
Kelima,
verbalistis. Komunikasi yang hanya berupa penjelasan verbal berupa kata-kata
saja akan membosankan dan mengaburkan komunikan dalam memahami makna pesan.
Keenam, komunikasi satu arah. Komunikasi berjalan satu arah, dari
komunikator kepada komunikan terus-menerus dari awal sampai akhir, menyebabkan
hilangnya kesempatan komunikan untuk meminta penjelasan terhadap hal-hal yang
belum dimengerti. Ketujuh, Tidak digunakan media yang tepat. Pilihan penggunaan
media yang tidak tepat menyebabkan pesan yang disampaikan sukar dipahami oleh
komunikan.
Kedelapan, perbedaan bahasa. Perbedaan bahasa menyebabkan terjadinya
perbedaan penafsiran terhadap simbol-simbol tertentu. Bahasa yang kita gunakan
untuk berkomunikasi dapat berubah menjadi penghambat bila dua orang
mendefinisikan kata, frasa, atau kalimat tertentu secara berbeda. Ketika
seorang pimpinan meminta anda menyelesaikan konsep pidato “sesegera mungkin”,
apakah itu berarti 10 menit, 10 jam, ataukah satu hari. Ketika seorang juri
memberikan predikat “lumayan” kepada peserta kontes penyanyi, apakah itu
berarti nilainya 5, 6 ataukah 7.
Kesembilan, perbedaan persepsi. Apabila pesan yang disampaikan oleh
komunikator dipersepsi sama oleh komunikan, maka keberhasilan komunikasi
menjadi lebih baik. Namun perbedaan latar belakang sosial budaya, seringkali
mengakibatkan perbedaan persepsi, karena semakin besar perbedaan latar belakang
budaya, semakin besar pula pengalaman bersama. Berikut ilustrasi pengaruh
perbedaan persepsi terhadap pemahaman makna pesan gambar berikut :
![]() |
|
Berbagi pengalaman sedikit |
Berbagai pengalaman cukup besar |
Berbagi pengalaman dalam jumlah besar |
|
Persepi tidak sama |
Kemiripan persepsi |
Kesamaan persepsi |
|
Mekna berbeda |
Makna serupa |
Makna sangat serupa |
|
Kesalahpahaman |
Tingkat pemahaman sedang |
Tingkat pemahaman tinggi |
|
Tidak efektif |
Kurang efektif |
Efektif |
Gambar : 2.2
Pengaruh perbedaan persepsi terhadap pemahaman makna
pesan
Faktor-faktor penghambat yang
diuraikan di atas, pada dasarnya dapat terjadi pada diri komunikator maupun
komunikan. Faktor-faktor tersebut menjelma ke dalam sikap (behavior)
yang secara otomatis berfungsi sebagai filter bagi masing-masing
individu. Kalau sikap yang menonjol adalah prasangka buruk, mengabaikan
karakteristik lawan bicara dan sebagainya maka sikap tersebut akan menjadi Antarpribadi-gap,
yang menghambat proses komunikasi Antarpribadi. Berikut gambar Antarpribadi
Gap sebagai penghambat komunikasi :
![]() |
Gambar :
2.3
Antarpribadi
Gap sebagai penghambat komunikasi
Faktor Keefektifan
Komunikasi Antarpribadi.
Komunikasi Antarpribadi yang efektif menjadi keinginan semua
orang. Dengan komunikasi efektif tersebut, pihak-pihak yang terlibat di
dalamnya memperoleh manfaat sesuai yang diinginkan. Ada beberapa faktor yang
sangat menentukan keberhasilan komunikasi Antarpribadi apabila dipandang dari
sudut komunikator, komunikan, dan pesan.
Faktor
keberhasilan dilihat dari sudut komunikator : (a). Kredebilitas ialah kewibawaan seorang
komunikator di hadapan komunikan. Pesan yang disampaikan oleh seorang
komunikator yang kredebilitasnya tinggi akan lebih banyak memberi pengaruh
terhadap penerima pesan. (b). Daya
tarik ; ialah daya tarik fisik dan non fisik. Adanya daya tarik ini akan
mengundang simpati penerima pesan komunikasi. Pada akhirnya penerima pesan akan
dengan mudah menerima pesan-pesan yang disampaikan komunikator. (c). Kemampuan intelektual : ialah tingkat
kecakapan, kecerdasan, dan keahlian seorang komunikator, terutama dalam hal
menganalisisis suatu kondisi sehingga bisa mewujudkan cara komunikasi yang
sesuai.
(d). Integritas atau keterpaduan sikap dan
perilaku dalam aktifitas sehari-hari. Komunikator yang memiliki keterpaduan,
kesesuaian antara ucapan dan tindakannya akan lebih disegani oleh komunikan.
(e). Keterpercayaan, kalau komunikator
dipercaya oleh komunikan maka akan lebih mudah menyampaikan pesan dan
mempengaruhi sikap orang lain. (f). Kepekaan sosial, yaitu suatu kemampuan komunikator untuk memahami situasi
di lingkungan hidupnya. Apabila situasi lingkungan sedang sibuk, maka
komunikator perlu mencari waktu lain yang lebih tepat untuk menyampaikan suatu
informasi kepada orang lain.
(g). Kematangan tingkat emosional, ialah kemampuan
komunikator untuk mengendalikan emosinya, sehingga tetap dapat melaksanakan
komunikasi dalam suasana yang menyenangkan di kedua belah pihak. (h). Berorientasi kepada kondisi psikologis
komunikan, artinya seorang komunikator perlu memahami kondisi psikologis orang
yang diajak bicara. Diharapkan komunikator dapat memilih saat yang paling tepat
untuk menyampaikan suatu pesan kepada komunikan. (i). Komunikator harus bersikap supel, ramah, dan
tegas.
Faktor
Keberhasilan dilihat dari sudut Komunikan : (a). Komunikan yang cakap akan mudah menerima dan mencerna materi yang
diberikan oleh komunikator. (b). Komunikan
yang mempunyai pengetahuan yang luas akan mudah menerima informasi yang
diberikan oleh komunikator. (c). Komunikan
harus bersifat ramah, supel dan pandai bergaul agar tercipta proses komunikasi
yang lancar. (d). Komunikan
harus memahami dengan siapa ia berbicara. (e). Komunikan bersikap bersahabat dengan komunikator.
Faktor
keberhasilan dilihat dari sudut Pesan : (a). Pesan komunikasi Antarpribadi perlu dirancang dan disampaikan sedemikian
rupa sehingga dapat menumbuhkan perhatian komunikan. (b). Lambang-lambang yang dipergunakan harus
benar-benar dapat dipahami oleh kedua belah pihak, yaitu komunikator dan
komunikan. (c). Pesan-pesan
tersebut disampaikan secara jelas dan sesuai dengan kondisi maupun situasi
setempat. (d). Tidak menimbulkan
multi interprestasi atau penafsiran yang berlainan. (e). Sediakan informasi yang praktis, berguna, dan
membantu komunikan melakukan tindakan yang diinginkan. (d). Berikan fakta, buka kesan dengan cara
menyampaikan kalimat kongkrit, detail, dan spesifik disertai bukti untuk
mendukung opini. (e). Tawarkan
rekomendasi dengan cara mengemukakan langkah-langkah yang disarankan untuk
membantu komunikan menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Komunikasi Antarpribadi dalam Al-Qur’an
Untuk memberi arah yang jelas konsep komunikasi
dalam al-Qur’an diperlukan definisi komunikasi antarpribadi yang akan digunakan
sebagai pijakan untuk mengklasifikasi ayat terkait dengan komunikasi.
Secara umum komunikasi antarpribadi dapat
diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling
berinteraksi atau berkomunikasi[17].
Pengertian proses mengacu pada perubahan dan tindakan yang berlangsung secara
terus menerus, pertukaran yaitu tindakan menyampaikan dan menerima pesan secara
timbal balik, sedangkan makna yaitu kesamaan pemahaman di antara orang-orang
yang berkomunikasi terhadap pesan-pesan yang digunakan komunikasi24. dalam
proses
Dalan menyampaikan dan menerima pesan secara
timbal balik, sedangkan makna yaitu kesamaan pemahaman di antara orang-orang
yang berkomunikasi terhadap pesan-pesan yang digunakan komunikasi[18].
Berdasarkan pengertian di atas, komunikasi
antarpribadi dapat berlangsung antara dua orang yang memang sedang berdua-duan
seperti suami istri yang sedang berbicara, atau antara dua orang dalam suatu
pertemuan, misalnya dialog antara seorang bapak kepada anaknya, seorang guru
dengan muridnya, dan lain sebagainya.
Penjelasan al-Qur'an tentang komunikasi
antarpribadi akan dimulai ketika Nabi Ibrahim as. dialog dengan putranya Nabi
Ismail as. dalam surat as-shoffaat ayat 102 yang artinya sebagai
berikut:
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang- orang
yang sabar"(Ash Shaffaat ;102)[19]
Cermin komunikasi antarpribadi terlihat dalam
dialog antara Nabi Ibrahim as. dengan putranya Nabi Ismail yang didalamnya
terkandung nilai komunikasi yang memiliki nilai etika tinggi dalam penggunaan
bahasa. Berikut pendapat M. Quraish Shihab tentang ayat ini; ayat ini
menggunakan kata kerja mudhari' (masa kini dan akan datang) pada kata-kata ara
(saya melihat) dan adzbahuka (saya menyembelihmu). Demikian juga kata tu’mar (diperintahkan).
Hal ini untuk mengisyaratkan bahwa apa yang
beliau lihat itu seakan-akan masih terlihat hingga saat penyampaiannya. Sedang
penggunaan bentuk tersebut untuk kata menyembelihmu untuk mengisyaratkan bahwa
perintah Allah yang dikandung mimpi itu belum selesai dilaksanakan, tetapi
hendaknya segera dilaksanakan. Karena itu pula jawaban sang anak menggunakan
kata kerja masa kini juga untuk mengisyaratkan bahwa ia siap, dan bahwa
hendaknya sang ayah melaksanakan perintah Allah yang sedang maupun yang akan
diterimanya[20].
2.
Surat al-A'raf ayat 143
Konsep komunikasi antarpribadi dalam al- Qur'an
tercermin dalam permintaan dialog yang dilakukan oleh nabi Musa as kepada Allah
SWT sebagaimana tertera dalam surat al-A'raf ayat 143 yang artinya sebagai
berikut:
Artinya: "Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan
kami) pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung)
kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau)
kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman:
"Kamu sekali- kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu,
Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat
melihat-Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya
gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar
kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan
Aku orang yang pertama-tama beriman (al - A'raf; 143)[21]
Para Mufassirin ada yang mengartikan yang nampak
oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah, dan ada pula yang
menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah. Bagaimanapun juga
nampaknya Tuhan itu bukanlah nampak makhluk, hanyalah nampak yang sesuai
sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.
Menurut Quraish Shihab ketika nabi Musa as.
mendapat anugerah "mendengar kalam ilahi", timbul hasrat beliau untuk
memperoleh yang lebih dari itu, yakni melihat-Nya, namun tentunya yang beliau
harapkan adalah 'melihat-Nya' dengan satu cara melalui potensi yang Allah
anugerahkan kepadanya, sekaligus sesuai dengan keagungan serta kesucian Allah
SWT. walau bukan dengan terang-terangan, atau bukan langsung dengan pandangan
mata[22],
Pembahasan ini tidak bermaksud untuk mencari akar
masalah teologi tentang subtansi bahwa benarkah Allah itu dapat dilihat atau
tidak. Namun kontek yang perlu digaris bawahi dalam ayat ini adalah permintaan
dialog nabi Musa as. yang yang mencerminkan adanya konsep antarpribadi dalam
al-Qur'an.
Dalam surat Asy-Syura ayat 51 juga
diterangkan tentang penerimaan wahyu yang berkaitan dengan kegiatan berbicara
antara Allah dengan para rasul-Nya yang artinya
"Dan tidak
mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali
dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang
utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia
kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana"[23]
Kalimat yukallimahullah diajak berbicara
oleh Allah' tentu saja tidak boleh dipahami dalam arti percakapan seperti
halnya makhluk. Banyak perbedaan pandangan di antara para ulama dalam memahami
apa yang di maksud dengan 'kalam Allah' itu. Yang pasti bahwa 'kalam Allah'
atau apa saja redaksi yang mengesankan adanya persamaan antara Allah dan
manusia bahkan makhuk, harus segera dipahami bahwa hakikat keduanya tidaklah
sama, karena "tidak ada yang serupa dengan-Nya". Dapat disimpulkan
bahwa percakapan dalam ayat ini bermakna 'dipahaminya apa yang hendak
disampaikan Allah oleh objek yang dipilihnya.
Ada tiga cara pemahaman tentang penyampaian wahyu
dalam ayat di atas yaitu ; Pertama, penyampaian wahyu dipahami sebagai
pemberian informasi tanpa perantara dan dengan cara tersembunyi. Wahyu juga
dapat berbentuk ilham atau mimpi atau juga dengan cara yang lain. Allah
menganugerahkan kepada yang menerima wahyu itu kemampuan mendengar, atau juga
disertai dengan pandangan maupun tidak.
Kedua, kalimat wara’a hijab bukan berarti
dibelakang yakni antonim depan, tetapi dalam arti 'di luar sesuatu'. Hal ini
karena Allah tidak membutuhkan tempat, sehingga tidak ada bagi-Nya dan sifat-
Nya ruang, atas atau bawah, depan atau belakang. Allah Maha Tinggi, maka
percakapan-Nya tidaklah sama dengan percakapan makhluk, tidak juga sama dengan
percakapan seseorang dengan yang lain. Allah Maha Bijaksana, sehingga Dia dapat
memilih yang terbaik untuk diajak berbicara, serta informasi dan tuntunan yang
disampaikan-Nya adalah yang sangat sesuai dengan kemaslahatannya.
Ketiga, penyampaian wahyu yang paling sering
diterima oleh para nabi adalah wahyu yang disampaikan malaikat itu terkadang
datang disertai dengan suara bagaikan lonceng, dan ini adalah yang terberat,
terkadang juga bagaikan suara lebah, dan tidak jarang pula malaikat menampakkan
dirinya dalam bentuk manusia, baik dikenal ataupun tidak[24].
3.
Surat an-Nahl ayat 125
Dalam konteks lain surat an-Nahl ayat 125 juga
menerangkan adanya konteks komunikasi antarpribadi melalui etika pembicaraan
dengan orang lain sebagai berikut :
Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat
dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk"[25]
Kata kunci dalam ayat ini adalah hikmah,
al-mauidzah dan jaadilhum Quraishihab
mengartikan
hikmah sebagai yang paling utama dari segala sesuatu,
baik pengetahuan maupun perbuatan. Hikmah adalah pengetahuan dan tindakan yang
bebas dari kesalahan atau kekeliruan. Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu
yang bila dipergunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemaslahatan dan
kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya mudharat
atau kesulitan yang besar atau lebih besar.
Kata الموعظة diambil
dari kata وعظ (wa'azha)
yang berarti nasihat. Kata الموعظة diartikan
sebagai uraian yang menyentuh hati yang mengantar kepada kebaikan. Sedangkan
kata جاد لهم diambil
dari kata yang bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau
dalih mitra diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang
dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra bicara.
Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa kata الموعظة hendaknya
disampaikan dengan (حسنة ) 'hasanah'/baik. Sedang perintah 'jidal جدال disifati
dengan (احسن) ahsan/yang terbaik, bukan sekedar yang
terbaik. Keduanya berbeda dengan حكمة hikmah
yang tidak disifati oleh sifat apapun. Ini berarti bahwa الموعظة mau'izhah'
ada yang baik dan ada yang tidak baik, sedang jidal' ada tiga macam, yang baik,
yang terbaik, dan yang buruk. Hikmah tidak perlu disifat dengan sesuatu karena
dari maknanya telah diketahui bahwa ia adalah sesuatu yang mengena kebenaran
berdasar ilmu dan akal.
Ibnu Jarir[26]
mengatakan bahwa yang diserukan kepada manusia adalah wahyu yang diturunkan
kepadanya berupa Al Qur'an, Sunnah, dan pelajaran yang baik; yakni semua yang
terkandung di dalamnya berupa larangan-larangan dan kejadian-kejadian yang
menimpa manusia (di masa lalu). Pelajaran yang baik itu agar dijadikan
peringatan buat mereka akan pembalasan Allah SWT (terhadap mereka yang
durhaka).
Wajaadilhum bilati hiya ahsan
(dan bantahlah mereka dengan cara yang baik). Yakni terhadap orang-orang yang
dalam rangka menyeru mereka diperlukan perdebatan dan bantahan. Maka hendaklah
hal ini dilakukan dengan cara yang baik, serta cara yang bijak. Ayat ini sama
pengertiannya dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya yang artinya :
"Dan janganlah kamu berdebat denganAhli kitab, melainkan
dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara
mereka, dan Katakanlah: "Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang
diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu
adalah satu; dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri" (al-Ankabut; 46)[27]
Kata kunci dalam ayat di atas adalah تجادلوا diambil
dari kata dala' yang berarti berdiskusi yaitu berupaya untuk meyakinkan pihak
lain tentang kebenaran sikap masing-masing dengan menampilkan argumentasinya.
Ayat di menggunakan bentuk jamak, karena itu atas lebih ditujukan bagi kaum
muslimin, sebab kemungkinan terjadinya 'mujadalah' tidak dengan cara yang
terbaik, hanya dapat di duga dari mereka (ahli kitab)[28].
Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk
bersikap lemah lembut, seperti halnya yang dia perintahkan kepada Musa dan
Harun, ketika keduanya di utus oleh Allah SWT kepada Fir'aun, yang kisahnya
disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an surat Thaha ayat 44 yang artinya :
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah
lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut" [29].
Kata-kata yang lembut dalam berkomunikasi memang
sangat diperlukan, fir'aun saja yang jelas- jelas sifat durhakanya masih harus
dihadapi dengan pembicaraan lemah lembut apalagi dengan orang- orang yang tidak
memiliki sifat kedurhakaan. Ayat ini sekaligus dapat dijadikan sebagai dasar
perlunya sikap bijaksana dalam berkomunikasi yang antara lain dapat ditandai
dengan ucapan-ucapan yang sopan yang tidak menyakitkan hati komunikasi[30].
Ayat ini mengandung pelajaran yang penting, yaitu
sekalipun fir'aun adalah orang yang sangat membangkang dan sangat takabbur,
sedangkan Musa adalah makhluk pilihan Allah saat itu, musa tetap diperintahkan
agar dalam menyampaikan risalahNya kepada fir'aun memakai bahasa dan tutur kata
yang lemah lembut dan sopan santun[31].
Bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan layyinan adalah dengan kata-kata
sindiran (bukan dengan kata-kata terus terang).
Pada garis besarnya dapat disimpulkan bahwa Musa
dan Harun diperintahkan oleh Allah SWT agar dalam dakwahnya kepada fir'aun
memakai kata-kata yang lemah lembut, sopan santun, dan belas kasihan;
dimaksudkan agar kesannya lebih mendalam dan lebih menggugah perasaan serta
dapat membawa hasil yang positif. Hal ini juga diperkuat firman Allah yang
artinya sebagai berikut :
"Maka disebabkan
rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah
membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang- orang yang bertawakkal kepada- Nya" (Ali Imron : 159)[32]
Ayat di atas merupakan contoh konkrit bagaimana
Allah telah membentuk kepribadian Nabi Muhammad SAW. Kepribadian beliau
dibentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang Allah limpahkan kepada beliau
melalui wahyu-wahyu al- Qur'an, tetapi juga kalbu beliau disinari, bahkan
totalitas wujud beliau merupakan rahmat bagi seluruh alam.
Pada ayat tersebut dijelaskan tiga sifat dan
sikap secara berurutan disebut dan diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk
dilaksanakan sebelum bermusyawarah[33],
yaitu ;
Pertama, berlaku lemah lembut, tidak kasar, dan
tidak berhati keras. Seorang yang melakukan musyawarah, apalgi yang berada
dalam posisi pemimpin, yang pertama harus dihindari adalah tutur kata yang
kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak, maka mitra musyawarah akan
bertebaran pergi.
Kedua, memberi maaf, dan membuka lembaran baru.
Dalam bahasa ayat di atas, "fa'fu 'anhum". Maaf secara harfiah
berarti menghapus. Memaafkan adalah menghapus bekas luka hati akibat perlakuan
pihak lain yang dinilai tidak wajar. Hal ini perlu, karena tiada musyawarah
tanpa pihak lain, sedangkan kecerahan pikiran hanya hadir bersamaan dengan
sirnanya kekeruhan hati.
Di sisi lain para peserta musyawarah harus
mempersiapkan mentalnya untuk selalu bersedia memberi maaf, karena boleh jadi
ketika melakukan musyawarah terjadi perbedaan pendapat, atau keluar dari pihak
lain kalimat atau pendapat yang menyinggung, dan bila mampir ke hati, akan
mengeruhkan pikiran bahkan boleh jadi mengubah musyawarah menjadi pertengkaran.
Ketiga, adanya permohonan maghfiroh (selalu mohon ampun pada ilahi)
sebagaimana pada ayat di atas "wastaghfirlahum" dan di akhir dengan
berserah diri dkepada dan tawakal kepada Allah.
Menurut Ibnu Kasir[34]
sikapmu yang lemah lembut terhadap mereka, tiada lain hal itu dijadikan oleh
Allah buat dirimu dan juga buat mereka. Yakni berkat rahmat Allah-lah kamu
dapat bersikap lemah lembut terhadap mereka. Al Hasan mengatakan bahwa
begitulah akhlak Nabi Muhammad yang diutus Allah dengan menyandang akhlak ini.
Al Fazzu artinya keras, tetapi makna yang dimaksud adalah keras dan kasar dalam
berbicara.
Dengan kata lain sekiranya kamu kasar dalam
berbicara dan berkeras hati dalam menghadapi mereka, niscaya mereka bubar
darimu dan meninggalkan kamu. Akan tetapi Allah menghimpun mereka di
sekelilingmu dan membuat hatimu lemah lembut terhadap menyukaimu. mereka
sehingga mereka
Karena itulah Rasulullah selalu bermusyawarah
dengan mereka apabila menghadapi suatu masalah untuk mengenakkan hati mereka,
agar menjadi pendorong bagi mereka untuk melaksanakannya. Seperti musyawarah
yang beliau lakukan dengan mereka mengenai perang badar. Apabila engkau telah
bermusyawarah dengan mereka dalam urusan itu, dan kamu telah membulatkan
tekadmu, hendaklah kamu bertawakkal kepada Allah dalam urusan itu[35]43.
Ayat-ayat di atas telah memberikan pengertian
bahwa contoh komunikasi antarpribadi telah diperagakan melalui dialog Nabi
Ibrahim dengan putranya Nabi Ismail, demikian juga tentang permintaan Nabi Musa
untuk berdialog langsung kepada Allah. Komunikasi antarpribadi yang ada dalam
al-Qur'an lebih banyak mengatur etika komunikasi ketika berhadapan dengan orang
orang lain. Penggunaan bahasa yang penuh hikmah, bijaksana, dan ketika
berbantahan atau diskusi juga dengan menggunakan argumen yang santun dalam mengalahkan
pihak lawan.
Komunikasi dengan menggunakan bahasa yang sopan,
dan lemah lembut menjadi kekuatan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan
prinsip-prinsip komunikasi dalam al-Qur'an semuanya berawal dari etika
komunikasi yaitu; qawlan sadidan yaitu pembicaraan yang benar, jujur,
lurus, tidak bohong, tidak berbelit- belit (QS: An Nissa'; 9, Al Ahzab; 70), qawlan
balighan yaitu komunikasi yang jelas maknanya, terang, dan tepat
mengungkapan apa yang dikehendaki (komunikasi efektif) (QS: An Nissa'; 63), qawlan
maysuran yaitu perkataan yang pantas, yang tidak menimbulkan
ketersinggungan pada orang lain (QS: Al Isra'; 28), qawlan layyinan
yaitu kata-kata yang lemah lembut (QS : Thaahaa; 44), qawlan kariman
yaitu perkataan yang mulia, yang tidak membuat orang marah (QS / A * lIsr * a';
23) dan qawlan ma'rufan yaitu kata-kata yang baik (QS : An Nissa'; 5).
Hubungan dan Keterkaitan Konsep Komunikasi Antarpribadi dalam
Al-Qur’an dengan konsep Komunikasi Antarpribadi menurut ilmu komunikasi.
Untuk memahami arah yang jelas keterkaitan konsep
komunikasi dalam al-Qur’an diperlukan definisi komunikasi antarpribadi yang
akan digunakan sebagai pijakan untuk mengklasifikasi ayat terkait dengan
komunikasi.
Secara umum komunikasi antarpribadi dapat
diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling
berinteraksi atau berkomunikasi. Pengertian proses mengacu pada perubahan dan
tindakan yang berlangsung secara terus menerus.
Memang dalam Islam tidak mengenal kata atau
definisi komunikasi dan ilmu komunikasi baik di dalam al-Quran maupun hadits
tidak akan ditemui kata dan pengertian tersebut. Namun demikian, dari kedua
sumber ajaran Islam tersebut, dapat ditemui beberapa prinsip dasar yang
berkaitan dengan komunikasi[36].
Al-Quran selalu berada di tengah-tengah
kehidupan, alam dan relasi kemanusiaan untuk mengawal peradaban kemanusiaan.
Al-Quran berada di depan sebagai panduan, di tengah realitas sebagai sumber spirit
dan inspirasi, serta di belakang sebagai pendorong atau motivasi[37].
Al-Quran juga menyebut komunikasi sebagai salah
satu fitrah manusia dengan merujuk surat ar-Rahman ayat 1-4 bahwa manusia
diciptakan dengan kemampuan berkomunikasi (al-bayan).
Dengan demikian maka sesungguhnya dalam al-Quran
telah terkandung semua aspek ajaran tentang komunikasi. Hanya saja orang-orang
barat lebih dahulu mengembangkan ajaran al-Quran melalui pengembangan ilmiah
tentang pengetahuan komunikasi.
Adapun hubungan konsep komunikasi Antarpribadi
dalam Al-Qur’an dengan konsep komunikasi Antarpribadi menurut ilmu komunikasi. Dalam penjelasan ini akan diuraikan
tentang hubungan atau keterkaitan teori komunikasi Antarpribadi dalam al-Qur’an
dan menurut ilmuan komunikasi. Dalam kajian hubungan ini, dijelaskan
menggunakan 5 (lima) jenis hubungan yaitu hubungan similarisasi
atau paralelisasi adalah konsep komunikasi Antarpribadi dalam al-Qur’an
memiliki kesamaan pandangan dengan teori komunikasi Antarpribadi menurut ilmuan
komunikasi.
Hubungan konfirmatif adalah konsep
komunikasi Antarpribadi dalam al-Qur’an memberikan justifikasi sekaligus
klarifikasi terhadap teori komunikasi Antarpribadi.
Hubungan komplementasi adalah hubungan
timbal-balik atau saling mengisi antara komunikasi Antarpribadi dalam
al-Qur’an dengan teori komunikasi Antarpribadi.
Hubungan informatif adalah konsep
komunikasi Antarpribadi dalam al-Qur’an memperkaya teori komunikasi Antarpribadi.
Hubungan korektif adalah konsep komunikasi Antarpribadi dalam
al-Qur’an mengoreksi kekurangan yang terdapat dalam teori komunikasi komunikasi
Antarpribadi.
Adapun benang merah dari keterkaitan konsep
komunikasi Antarpribadi dalam al-Qur’an dan komunikasi menurut ilmuan
komunikasi, dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, konsep al-Qur’an tentang
komunikasi antarpribadi; lebih berpijak pada etika komunikasi atau cara
berbicara pada orang lain dengan hikmah, mauidzah dan mujadalah yang
dilandasi prinsip qawlan sadida, qawlan baliighan, qawlan maisuran, qawlan
layyinan, qawlan kariiman, qawlan ma’rufan.
Kedua, konsep barat tentang komuniksi
antarpribadi ; lebih berpijak pada proses terjadinya komunikasi dengan batasan
peserta (dua tau tiga peserta komunikasi) dengan menggunakan teknik persuasive,
informatif atau coersif.
Ketiga, keterkaitan konsep al-Qur’an menggunakan
etika sebagai tuntuan utama agar lawan bicara tidak meninggalkannya, namun pada
pada konsep barat menggunakan batasan peserta komunikasi sebagai ruang yang
terbatas. Kedua konsep memiliki kesamaan di hasil akhir yaitu tentang tata cara
/ tehnik atau etika.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi, dkk. Psikologi Sosial , Jakarta,
Rineka Cipta, 1999
Alex Soubur, Psikologi Umum, Bandung, Pustaka
Setia, 2003
Ali Nurdin, Taksonomi
Komunikasi dalam Al-Qur’an, IAIN SUnan Ampel Press, Surabaya, 2011
Teri Kwak Gamble dan Michael Gamble. Communication Works.
Seventh Edition, by
Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar,
Bandung, Remaja Rosdakarya, 2007
Onong
Uchyana Efendi, Dinamika Komunikasi, Remaja Rosda Karya, cet. 6.
Bandung. 2004
Djuarsa Sendjaja, P.D dkk. Teori Komunikasi, Modul 1-9.
Universtas Terbuka 1998
Djuarsa Sendjaja, Teori
Komunikasi, Jakarta, Universitas Terbuka, 1994
Hardjana,
Agus M. Komunikasi Antarpribadi dan Antarpribadi. Penerbit Kanisius.
Iswandi
Syahputra, Komunikasi Profetik. Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2007
Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia,
https://yenrizal.blogspot.com/2011/08/komunikasi-
Mafri Amir, Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan
Islam. Jakarta, PT. logos Wacana Ilmu, 1999.
Nina Winangsih Syam, Materi
kuliah Program Pascasarjana UNPAD, Bandung, 2010
Onong Uchyana effendi. Ilmu,
Teori, dan Filsafat Komunikasi, Bandung; Remaja Rosdakarya, 2000
Jalaluddin Rakhmat M.sc, Psikologi Komunikasi. Edisi
Revisi.. Penerbit PT Remaja Rosdakarya - Bandung.
Roberta A. Baron dan Donn Byrne, Psikologi Sosial, Jilid
1. Edisi ke-10. Penerbit Erlangga
Reed H. Blake, Edwin O,
Haroldsen, Taksonomi Konsep Komunikasi, ….
Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial,
Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1998.
Sutaryo, Sosiologi Komunikasi Perspektif Teoritik,
Yogyakarta, Arti Bumi Intara.
[1] Lihat
Dinamika Komunikasi, Onong Uchyana Efendi, Remaja Rosda Karya, cet. 6. Bandung.
2004, 29-30
[2] Ibid. Who
(siapa komunikatornya), Says What (pesan apa yang disampaikan), In Which
Channel (media apa yang digunakan), To Whom (siapa komunikannya), With What
Effect (efek apa yang diharapkannya).
[3] Dalam konteks lain dikenal istilah komunikasi transendental. Dalam khazanah ilmu komunikasi, komunikasi
transendental merupakan salah satu bentuk komunikasi disamping komunikasi Antarpribadi,
komunikasi kelompok, dan komunikasi massa. Komunikasi transenden adalah komunikasi
antar manusia dengan Tuhan salah satunya adalah dalam bentuk do’a dalam surat
Nuh.
[4] Kajian
komunikologi al-Qur’an merupakan bagian dari kajian komunikasi Islam. Komunikasi
Islam yang salah satu substansi kajiannya adalah komunikasi kenabian atau
komunikasi profetik merupakan khazanah baru dalam kajian komunikasi.
Selain itu dikenal juga istilah kajian komunikasi dalam al-Qur’an atau bisa
disingkat komunikologi Al-Qur’an. Istilah ini bisa dikatakan sebagai tawaran
dan bagian dari upaya terkini membangun khazanah baru dalam kajian
komunikasi berbasis al-Qur’an.
[6] Jalaludin
Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja),1994.h. 14.
[7] Djoenaesih
S. Sunarjo, pengantar Ilmu Komunikasi jilid I, (Yogyakarta : Liberty),
1991. H. 97.
[8] Deddy
Mulyana, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya),
2005.
[9]
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan …………, hlm, 63.
[10]
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan …………, hlm, 64.
[11]
Ibid
[12]
Op cit
[13]
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan …………, hlm, 65..
[14] Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan
…………, hlm, 66.
[15] Lihat Suranto AW. Komunikasi Antarpribadi,. (Graha
Ilmu, Yogyakarta, 2011), 83.
[16]Suranto
AW. Komunikasi Antarpribadi. (Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011), 84.
[17] Sendjaja,
Teori Komunikasi, Jakarta, Universitas Terbuka, 1994), seperti dikutip Ali
Nurdin dalam Taksonomi Komunikai dalam Al-Qur’an, 2011, 91.
[18] Ibid, 42
[19] Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan
Terjemahannya.... hal. 725
[20] M.
Quraish Shihab, To Al-Mishbalı Volume 12, hal. 63
[21] Departemen Agama
RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya.... hal. 243
[22] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al - Mishbah... Volume 5, hal. 229
[23] Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan
Terjemahannya....hal. 791 30 M. Quraish Shihab, Tafsir Al - Mishbah... Volume
12, hal. 526
[24] M. Quraish Shihab, Tafsir Al - Mishbalı...
Volume 12, hal. 526-527
[25] Departemen
Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya... hal. 421 M. Quraish Shihab, Tafsir Al
- Mishbalt... Volume 7, hal. 386-387
[26] Dalam Al Imam
Abu Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir, juz 14,..... h. 292-293
[27] Departemen Agama
RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya h. 635
[28]
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah
Volume 10 : 514
[29] Departemen Agama
RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya... h. 480
[30] Al Imam Abu Fida
Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir, juz 16, hal. 342-344.
[31] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al - Mishbah ... Volume 8, hal. 306 "
[32] Departemen Agama
RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya.... hal. 103
[33] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al - Mishbalı .... Volume 2, hal. 244-245
[34] Al Imam Abu Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi,
Tafsir Ibnu Kasir, juz 4... hal. 244-247
[35] Ibid., hal 250
[36] Mafri Amir,
Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam. Jakarta, PT. logos Wacana Ilmu,
1999;11. Lihat juga dalam Ali
Nurdin, Taksonomi Komunikasi dalam Al-Qur’an, IAIN SUnan Ampel Press, Surabaya,
2011:128
[37] Iswandi
Syahputra, Komunikasi Profetik. Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2007;57



إرسال تعليق