Empat Karakter Kader Pejuang Hidayatullah: Ngandel, Kendel, Bandel, dan Kandel (red.7)

Empat Karakter Kader Pejuang Hidayatullah: Ngandel, Kendel, Bandel, dan Kandel (red.7)

Oleh. Mashud*
Dalam momentum Silaturahmi Syawal 1447 H/2026 M di Surabaya, Ustadz Hamim Tohari, M.Si (Ketua Dewan Syuro Hidayatullah) menyampaikan sebuah kerangka karakter yang sangat kuat dan membumi bagi kader pejuang Hidayatullah. Empat istilah sederhana namun sarat makna itu adalah: Ngandel, Kendel, Bandel, dan Kandel. Keempatnya bukan sekadar slogan, tetapi fondasi mental, spiritual, dan sosial yang harus tertanam kokoh dalam diri setiap kader.
Pertama, Ngandel yang berarti percaya. Ini adalah akar dari seluruh gerak perjuangan. Seorang kader harus memiliki kepercayaan yang utuh kepada Allah SWT, kepada kebenaran risalah Islam, serta kepada jalan dakwah yang ditempuh. Kepercayaan ini bukan sekadar di lisan, tetapi menjelma menjadi keyakinan yang menggerakkan. Dalam konteks perjuangan, ngandel berarti tidak mudah goyah oleh keraguan, tidak terombang-ambing oleh opini, dan tidak lemah oleh tekanan. Ia yakin bahwa setiap langkah yang diniatkan karena Allah akan berbuah kebaikan, meskipun hasilnya tidak selalu tampak seketika.
Kedua, Kendel yang berarti berani. Keberanian adalah manifestasi dari keimanan yang hidup. Seorang kader Hidayatullah tidak boleh menjadi penonton dalam arus perubahan. Ia harus hadir sebagai pelaku, bahkan penggerak. Kendel berarti berani menyampaikan kebenaran, berani mengambil keputusan strategis, dan berani menghadapi risiko perjuangan. Dalam sejarah Islam, keberanian para sahabat menjadi kunci kemenangan dakwah. Demikian pula hari ini, kader yang kendel akan mampu menembus batas ketakutan, melampaui zona nyaman, dan berdiri tegak di tengah tantangan zaman.
Ketiga, Bandel yang dimaknai sebagai tahan banting. Ini adalah karakter ketangguhan. Perjuangan tidak selalu berjalan mulus; ia penuh ujian, kegagalan, bahkan penolakan. Di sinilah pentingnya sifat bandel—tidak mudah menyerah, tidak cepat putus asa, dan tetap istiqamah dalam kondisi apa pun. Kader yang bandel adalah mereka yang mampu bangkit setelah jatuh, belajar dari kegagalan, dan terus melangkah meskipun jalannya terjal. Ketahanan mental dan emosional ini sangat penting dalam menjaga kontinuitas dakwah, agar tidak berhenti di tengah jalan.
Keempat, Kandel yang berarti tebal atau memiliki modal besar. Modal di sini tidak semata-mata materi, tetapi mencakup kekayaan spiritual, intelektual, dan sosial. Kader Hidayatullah harus “tebal” dalam ilmu, kuat dalam jaringan, serta kokoh dalam nilai. Ia memiliki bekal yang cukup untuk berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat. Kandel juga berarti kesiapan berkorban—waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta, demi kemajuan umat. Tanpa modal yang kuat, perjuangan akan mudah rapuh. Namun dengan modal yang “kandel”, kader mampu menjadi pilar yang mengokohkan peradaban.
Keempat karakter ini saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan. Ngandel memberi arah, kendel memberi energi, bandel memberi daya tahan, dan kandel memberi kekuatan. Jika keempatnya bersatu dalam diri seorang kader, maka ia akan menjadi pribadi yang utuh: beriman, berani, tangguh, dan berdaya.
Pesan Ustadz Hamim Tohari ini sangat relevan di tengah dinamika zaman yang penuh tantangan. Kader Hidayatullah tidak cukup hanya baik secara personal, tetapi harus kuat secara kolektif. Dengan menanamkan empat karakter ini, diharapkan lahir generasi pejuang yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memenangkan pertarungan nilai di tengah masyarakat.
Akhirnya, empat karakter ini bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dihidupkan.
Setiap kader perlu terus mengasah kepercayaan, melatih keberanian, menguatkan ketangguhan, dan memperbesar modal diri. Dari sinilah akan lahir kader-kader pejuang Hidayatullah yang siap mengemban amanah dakwah dan membangun peradaban Islam yang mulia. Wallahu a'lam bis showab
*The author is founder of the Urban Pesantren of Berkah-Ibu Surabaya, a lecturer, researcher, social-community observer, preacher and family consultant

Post a Comment

Previous Post Next Post